I Samuel 6:1-7:1

victor bet

pro 33 slot

rupiah 126 slot login

alien138 slot

I) Pengembalian tabut Allah (6:1-12,16)

1) Orang Filistin meminta nasehat para imam dan petenung mereka (6:1-2)

Dalam 1Samuel 5, kita telah melihat bahwa mereka memutuskan untuk mengembalikan tabut itu ke Israel, tetapi tidak tahu cara yang tepat. Mungkin mereka takut jika caranya salah, Tuhan akan menghajar mereka lebih hebat. Karena itu mereka meminta nasehat kepada para imam dan petenung mereka.

2) Nasehat dari para imam dan petenung (6:3-9)

a) Salah satu hal menarik dan bijaksana adalah bahwa mereka mau belajar dari sejarah atau pengalaman orang lain (6:6). Mereka tahu bahwa Mesir dan Firaun dihajar Tuhan karena berkeras hati tidak mau membiarkan bangsa Israel pergi. Mereka tidak mau mengalami hal yang sama. Karenanya mereka menasehati untuk tidak berkeras hati (6:6a). Penerapan: Dari pengalaman orang lain, kita harus belajar bukan hanya untuk melakukan hal positif, tetapi juga untuk tidak melakukan hal negatif.

b) Mereka menasehatkan untuk tidak mengembalikan tabut dengan tangan hampa, tetapi dengan membayar tebusan salah kepada Tuhan (6:3), yaitu lima borok emas dan lima tikus emas, sesuai dengan tulah yang Tuhan berikan (6:4-5). Orang kafir ini berusaha membayar tebusan salah, menunjukkan bahwa manusia sebenarnya tahu bahwa dosa terhadap Allah membutuhkan penebusan. Namun sayangnya mereka memberikan tebusan sekehendak sendiri. Satu-satunya tebusan yang dapat memadamkan murka Tuhan adalah pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib (2Kor 5:18-21, 1Pet 1:18-19). Tanpa Kristus tidak mungkin ada keselamatan.

c) Mereka juga menasehatkan untuk mengembalikan tabut dengan menggunakan sebuah kereta baru (6:7) dan dua ekor lembu yang menyusui dengan anak-anaknya ditahan di rumah (6:7) dan belum pernah kena kuk (6:7).

d) Menguji apakah tangan Tuhan yang mendatangkan malapetaka itu atau tidak (6:9). Jika lembu-lembu itu langsung pergi ke Bet Semes (kota Israel terdekat dengan Ekron), maka itu dari Tuhan; jika tidak, maka terjadi secara kebetulan. Penggunaan lembu menyusui dan penahanan anaknya berkaitan dengan pengujian ini, karena lembu menyusui biasanya tidak mau meninggalkan anaknya. Demikian pula lembu yang belum pernah kena kuk biasanya berontak. Pengujian ini menunjukkan mereka belum yakin 100% bahwa Tuhan yang menyebabkan malapetaka. Mereka masih menganggap kemungkinan kebetulan (6:9b). Penerapan: Jika kita mengalami malapetaka dan menduga ada kemungkinan penyebabnya karena suatu hal (belum pasti dosa), kita perlu mencoba bertobat dari hal itu untuk mengetahui apakah malapetaka itu karena hal tersebut. Catatan: Jika hal itu jelas dosa, tidak perlu diuji; harus langsung bertobat. Tetapi jika bisa dosa bisa tidak, perlu diuji. Misalnya pindah gereja, pindah pelayanan, memindahkan perpuluhan, dll.

3) Orang Filistin mentaati nasehat (6:10-12)

Apa yang terjadi? Perhatikan 6:12. Lembu-lembu itu langsung menuju Bet Semes tanpa menyimpang ke kanan atau kiri, sambil menguak. Sebagian besar penafsir berpendapat bahwa menguaknya lembu menunjukkan mereka ingin pergi kepada anak-anaknya, tetapi karena tangan Tuhan mengarahkan mereka ke Bet Semes, mereka terpaksa pergi sambil menguak. Penerapan: Kedua lembu ini dipaksa Tuhan untuk melayani dan mentaati Dia. Namun terhadap kita, Tuhan berfirman supaya kita tidak seperti kuda atau bagal yang baru mau menurut jika dikendalikan dengan kekang (Mazmur 32:8-9). Ini juga membuktikan bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan! Segala sesuatu diatur oleh Tuhan (1Raja 22:34, Matius 10:29-31, Keluaran 21:13).

4) Semua ini disaksikan oleh para raja orang Filistin yang mengikuti lembu-lembu itu dari belakang (6:12b,16)

Dengan demikian mereka mendapat bukti bahwa semua malapetaka bukan kebetulan, tetapi sengaja dilakukan Tuhan supaya mereka mengembalikan tabut. Namun mereka tetap tidak mau meninggalkan Dagon dan berpaling kepada Allah Israel.

II) Tabut Allah di Israel (6:12-7:1)

1) Tabut Allah bisa kembali sendiri (6:13)

Orang Israel tidak mengusahakan kembalinya tabut karena takut kepada orang Filistin. Namun berbeda dengan Dagon yang tidak bisa kembali sendiri dan harus dikembalikan oleh penyembahnya (5:3), Allah bisa membuat tabut pulang sendiri (bandingkan Hakim-hakim 6:28-32).

2) Sikap orang Israel pada waktu tabut kembali (6:13-15)

Berbeda dengan ladang orang Filistin yang dihancurkan tikus, ladang orang Israel menghasilkan baik sehingga mereka menuai gandum (6:13a). Mereka sedang sibuk dengan pekerjaan duniawi, tetapi ketika melihat tabut kembali, mereka bersukacita dan meninggalkan pekerjaan itu untuk mengurusi tabut Allah. Ini menunjukkan mereka mengutamakan Tuhan di atas pekerjaan duniawi. Bandingkan dengan banyak orang yang meninggalkan gereja demi pekerjaan atau hal duniawi. Penerapan: Mana yang saudara utamakan? Tuhan atau pekerjaan, uang, studi, pacar, anak, suami/istri, hobi? Ingat Keluaran 20:3: Jangan ada allah lain di hadapan-Ku. Pergi ke Pemahaman Alkitab tidak bisa, tetapi ke bioskop atau pesta pernikahan bisa? Ini mengutamakan hal duniawi. Jika hujan tidak ke gereja tetapi tetap kerja atau sekolah? Juga mengutamakan hal duniawi.

3) Kesalahan orang Israel

a) Orang Israel lalu membelah kayu kereta dan mempersembahkan lembu-lembu itu sebagai korban bakaran (6:15). Matthew Poole mengatakan bahwa tindakan mereka sudah salah karena mempersembahkan lembu betina, sedangkan Imamat 1:3 dan 22:19 mengatakan harus lembu jantan. Kesalahan ini ditoleransi Tuhan mungkin karena semangat mereka, namun kita harus hati-hati agar pada waktu sukacita tidak bertindak sembarangan.

b) Ada orang Bet Semes yang melihat ke dalam tabut itu. Tuhan tidak menoleransi kesalahan ini dan mereka langsung dihukum mati (6:19), sesuai Bilangan 4:5-6,15,20. Beberapa hal yang bisa dipelajari: Ada problem jumlah orang yang mati. Alkitab Indonesia, RSV, dan NIV menyebutkan 70 orang (sesuai Josephus), tetapi KJV dan NASB menyebutkan 50.070 orang. Syriac dan Arabic menyebutkan 5.070 orang. Catatan kaki NIV mengatakan hanya sedikit manuskrip Ibrani yang menyebutkan 70 orang, mayoritas manuskrip Ibrani dan LXX menyebutkan 50.070. Namun jumlah 50.070 diragukan karena kota kecil Bet Semes tidak berpenduduk 50.000, apalagi semuanya melihat ke dalam tabut. Secara hurufiah, terjemahannya adalah 'seventy men, fifty thousand men', yang aneh karena biasanya bilangan besar diletakkan di depan. Ini menyebabkan beberapa penafsir menganggap ada kesalahan penyalinan. Hati-hatilah dengan keingintahuan yang berdosa. Ada keingintahuan baik seperti ingin lebih tahu Firman Tuhan, tetapi ada keingintahuan salah yang tidak boleh dituruti (misalnya menguping pembicaraan orang). Hati-hatilah dengan sikap sembrono dan tidak hormat kepada Tuhan: datang terlambat, menyambut orang yang terlambat (saat itu mengabaikan kebaktian), membiarkan anak ribut, mengantuk, melamun, atau omong-omong waktu kebaktian. Hal yang memberatkan dosa mereka adalah Bet Semes adalah kota imam (Yosua 21:16), sehingga seharusnya tahu lebih baik tentang peraturan Tuhan. Berat ringannya hukuman dipengaruhi oleh banyaknya pengetahuan atau terang dalam diri orang yang berbuat dosa.

Pulpit Commentary: 'Apa yang dikirimkan sebagai berkat sering diubah oleh manusia menjadi kutuk.'
Karena itu, kita harus bersikap benar terhadap berkat Tuhan supaya berkat itu tidak menjadi kutuk.

c) Menyingkirkan tabut dari Bet Semes (6:20-7:1). Dari satu kesalahan mereka jatuh pada kesalahan lain. Seharusnya mereka introspeksi dan bertobat, tetapi malah menyalahkan Allah dan menganggap Dia terlalu keras (6:20). Pertanyaan 'Kepada siapakah Ia akan berangkat meninggalkan kita?' (6:20b) menunjukkan mereka sukar menemukan daerah yang mau menerima tabut. Penerapan: Apakah saudara takut melayani Allah karena kerasnya Allah? Anehnya, mengapa tidak takut menjadi orang Kristen yang ngangguran? Apakah Allah yang kudus dan keras itu senang dengan hal itu? Anehnya, mengapa tabut tidak diletakkan di Silo? Ada yang berkata mereka menempatkannya di tempat yang mau menerima, menunjukkan bejatnya Israel karena memisahkan tabut dengan Kemah Suci. Atau mungkin Silo sudah dihancurkan orang Filistin (Mazmur 78:60-64, Yeremia 7:12, 26:9). Tabut akhirnya diambil orang Kiryat-Yearim (6:21-7:1). Orang Bet Semes meminta mereka mengambilnya; mereka tidak mau menanggung risiko. Yang tidak mau berarti menolak berkat Tuhan, yang mau menerima berkat. Berusahalah menjadi seperti orang Kiryat-Yearim yang tidak ikut-ikutan takut.

Seseorang membandingkan sikap orang Bet Semes dengan orang Kiryat-Yearim: 'Di sini kita menjumpai kontras antara agama yang bercirikan rasa takut dan agama yang berdasarkan rasa hormat yang benar. Agama yang didasarkan rasa hormat yang benar adalah pengertian akan kesucian dan kuasa tak terbatas yang diselaraskan dengan kasih yang penuh kepercayaan.'
Penerapan: Apakah saudara mengikut Tuhan dengan takut atau dengan rasa hormat yang benar?

7 dewa slot

▲ Kembali ke atas

Platform Lainnya

dynastibola

slot demogratis

bk 88 slot

dota2vpgame bet

Berita Piala Dunia

crazy domino slot apk

bit casino no deposit bonus

genting highlands casino

agen slot bonus

Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan kirim email ke [email protected]

▲ Kembali ke atas