KATEKETIKA

webslot

SAYAP77

totocc slot

Indobet365 MIX

Pengertian Kateketika

Istilah "kateketika" dan "katekese" berasal dari bahasa Yunani dan berarti "pengajaran". Kateketika merupakan pengajaran iman atau pelajaran agama Kristen yang dalam pelaksanaannya untuk melengkapi anggota gereja atau anggota baptis yang ingin mengakui sidi, dengan maksud agar mereka akan menjadi anggota dewasa.

Katehein

Katehein: mengajar/membimbing orang supaya melakukan apa yang diajarkan kepadanya. (Kis. 21:21; Kis 18:25; Gal. 6:6)

Didaskein

Didaskein: mengajar dengan maksud, supaya apa yang diajarkan itu yang dipraktikan. (Ul. 4:1)

Sejarah Kateketika

Setiap orang tua mempunyai kewajiban untuk mengkomunikasikan iman mereka dari nenek moyangnya kepada para keturunannya dari satu generasi ke generasi berikutnya tentang segala perbuatan TUHAN (Yahwe) (Maz.78: 3-7). Setiap umat Israel mengungkapkan iman mereka berdasarkan pengakuan percaya (credo) bahwa, "Tuhan itu Allah kita, TUHAN itu esa!... (Ul. 4-6). Sejak dini anak-anak Yahudi sudah dibiasakan mentaati peraturan agama yang dilakukan sesuai tahapan usianya.

Sesudah masa pembuangan, pendidikan iman bergeser dari wadah keluarga ke Sinagoge (wadah berkumpul sekaligus lembaga tempat orang Yahudi membicarakan berbagai hal menyangkut kehidupan mereka).

Pada tahun 75 sebelum Masehi yakni, sebelum kelahiran Tuhan Yesus, bangsa Yahudi mengadakan semacam sekolah dasar yang disebut beth-ha-sefer: rumah sang kitab (bet=rumah; sefer=kitab). Selanjutnya, pada tingkat yang lebih tinggi lagi setingkat sekolah menengah pertama anak-anak yang berusia 10 atau 11 tahun dikirim ke beth-ha-midrasy (beth = rumah; midrash = pengajaran).

Pada abad pertama pada waktu belum ada gedung gereja, orang-orang Kristen berkumpul dari satu rumah ke rumah lainnya. Kumpulan itu disebut "Jemaah Rumah"

Dalam kurun masa Gereja Purba atau Gereja mula-mula, baik orang keturunan dari agama Kristen maupun orang-orang non Kristen yang hendak menjadi pengikut Yesus Kristus diwajibkan untuk mengikuti pelajaran yang mempelajari Alkitab dan ajaran para rasul selama 3 tahun lamanya. sehingga mereka benar-benar bertobat dan menyatakan diri sedia memikul salib-Nya serta menjalani proses pendidikan iman yang merupakan persiapan bagi orang dewasa yang akan dibaptis, dan kemudian menerima sakramen Perjamuan Kudus.

Sekitar abad pertengahan fokus pembinaan iman adalah tentang iman bahwa, Yesus Kristus adalah Juruselamat, dan kemudian dilengkapi dengan sejumlah materi seperti : Dasa Titah, Doa Bapa kami dan Pengakuan Iman Rasuli.

Periode selanjutnya, dua tokoh reformasi juga memberikan perhatian atas kegiatan pengajaran iman ini, yaitu: Martin Luther dan Yohanes Calvin.

Istilah Kateketika

Dalam Perjanjian Lama

Pengajaran berupa sekolah-sekolah yang didirikan oleh jemaat Yahudi. Pengajaran diatur menurut umur anak-anak:

  • Umur 6-7 tahun: pengajaran elementer, yaitu belajar nas torah
  • Umur 10 tahun: pengajaran yang sebenarnya (misyna)
  • Umur 12-13 tahun: wajib menuruti syariat Yahudi (mitswoth)

Dalam Perjanjian Baru

  • Kathekein: memberitakan, memberitahukan, mengajar, memberi pengajaran, (Kis. 21:21; 21:24; Luk.1:4; Rom. 2:17-18)
  • Didaskein: mengajar dengan suatu tujuan yang tertentu, (Mat.4:23; 26:25; Kol. 1:28; 3:16)
  • Ginoskein: mengenal, belajar mengenal, mengatahui sesuatu, mengetahui sesuatu berdasarkan pengalaman yang nyata (Ul. 11:2; Hos. 4:6; 1 Kor. 10:5; Gal. 4:8-9; Yoh. 17:3).
  • Manthanein: belajar, suatu proses rohani, dimana orang mencapai sesuatu bagi dirinya untuk perkembangan kepribadiannya (Mat. 9:13; Ibr. 5:7-8; Ef. 4:20-32).
  • Paideuein: memberikan bimbingan kepada anak-anak, supaya mereka dalam dunia orang dewasa dapat menempati posisi mereka (Im. 20:26)

Tujuan Kateketika

Ada pun yang menjadi tujuan kateketika adalah:

  1. Mendidik (membina) anak-anak supaya mereka bisa berpartisipasi dalam hidup dan pelayanan Gereja pada Allah.
  2. Katekese
  3. Supaya anak-anak muda mengenal Allah dalam kehidupan mereka.
  4. membimbing semua anggota jemaat untuk memperlengkapi mereka bagi suatu hidup yang bertanggung jawab di dalam dunia.
  5. Supaya anak-anak muda dapat mengenal Allah dengan begitu Rupa, sehingga mereka bisa hidup bersama-sama dengan Tuhan.
  6. Pemberian pengetahuan.
  7. Pendidikan (pembinaan) anggota-anggota jemaat untuk menyadari tugas mereka di dalam Gereja.
  8. Mendidik anak-anak muda supaya mereka menjadi hamba-hamba Allah yang bertanggungjawab di dalam dunia.
  9. Penyampaian pengetahuan tentang Allah dari generasi ke generasi.
bet misyna

▲ Kembali ke atas

Platform Lainnya

atom slot 138

online casino live dealers

slot 168 gacor

slot plaatsen

Berita Piala Dunia

rtp live presiden slot

online slots

starvegas slot

tumi4d slot

Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan kirim email ke [email protected]

▲ Kembali ke atas