Desahan dari Kamar Ibuku
demo slot speed winner buy spin
Desahan dari Kamar Ibuku
Aku hanya mampu menghela nafas panjang. Sampai subuh menjelang Mas Bima belum juga menyentuhku. Ribuan tanya memenuhi benakku. Kenapa Mas Bima enggan memberikanku nafkah batin? Padahal sudah seminggu lebih kami menikah. Aku rasa, capek bukan lagi alasannya untuk memberikan apa yang seharusnya menjadi hakku.
"Apakah aku harus menanyakan alasannya sama Mas Bima, ya? Tapi, rasanya tidak pantas sekali kalau aku menanyakan hal seperti ini sama Mas Bima. Mau ditaruh dimana harga diriku sebagai seorang perempuan. Tar dikirain aku lagi yang ngebet duluan," benakku berkecamuk. Tidak terasa bibirku ikut mengerucut saat hatiku ini ngedumal kesal.
“Rin.”
"ARINI."
“Eh, iya Mas.” Aku tersadar dari kekacuan isi kepalaku. Tiba-tiba Mas Bima sudah berdiri di sampingku dengan pakaian rapinya. Khas sekali saat ia hendak pergi ke toko. Padahal sesaat lalu dia baru saja masuk ke kamar mandi.
“Lagi mikirin apa sih, Rin?” Mas Bima berjalan menuju ke arah meja rias, melewatiku. Ia menyisir rambutnya rapi. Tidak lupa dengan pengharum pakaian dengan aroma khas yang ia semprotkan pada kemeja yang ia kenakan. Membuatku ingin sekali menghirup aroma tubuh lelaki itu. Belum sempat aku menjawab ucapan Mas Bima suara ketukan pintu kamar terdengar.
Tok ... tok ...
“Rin, Nak Bima, Ayo sarapan! Makanannya sudah Ibu siapkan.”
Suara ibu terdengar dari balik pintu kamarku.
“Iya, Bu,” jawabku segera bangkit dari bibir ranjang tempatku berada dan mengajak Mas Bima menuju ruang makan.
Aneka menu masakan tersaji di atas meja makan. Aroma lezat menguar dari makanan yang ibu sajikan. Menggugah rasa lapar yang sejak tadi melanda perutku yang sudah keroncongan. Tidak sabar ingin segera diisi.
Ibu yang tampak masih muda dari usianya terlihat sangat cekatan sekali berkutat di sana. Siapapun yang melihat ibu pasti tidak akan menyangka jika wanita yang berdiri di samping meja makan itu adalah wanita yang usianya hampir menginjak setengah abad. Tubuhnya yang terawat karena ibu yang suka berolahraga juga kulitnya yang kencang dan bersih. Entah berapa kali dalam sebulan ibu mendatangi salon kecantikan untuk mendapatkan itu semua.
“Nak Bima, mau lauk apa?” ucap Ibu dengan tangan yang sudah membawa piring berisi nasi. Pandangannya tertuju pada Mas Bima yang baru menjatuhkan tubuhnya duduk di sampingku. Senyuman melengkung dari bibir tipisnya.
Aku melonggo sesaat. Bukankah seharunya yang melakukan itu adalah aku. Sebagai istri Mas Bima? Tapi kenapa ibu? Dan hal seperti ini ibu lakukan terus menerus semenjak Mas Bima tinggal di sini. Ingin sekali aku menegurnya, tapi aku tidak enak. Takut ibu tersinggung.
Cepat-cepat aku menepis perasaan jangal yang lagi-lagi mengusik pikiranku. Menganggap apa yang ibu lakukan adalah hal yang wajar. Toh bukankah lebih bagus kalau ibu menganggap Mas Bima seperti anaknya sendiri. Agar tidak ada rasa canggung bagi Mas Bima tinggal di rumah ini.
“Ayam goreng, sup bakso, soto, emh ...” Ibu menawarkan menu-menu yang tersaji di atas meja makan pada Mas Bima. Pandangannya menyapu pada mangkuk-mangkuk yang berisi menu lauk pauk buatannya.
“Mas Bima suka sup bakso, bu,” selaku berhasil mengalihkan tatapan ibu. Ada sedikit perubahan pada ekspresi wajahnya. Tanpa mengatakan apapun ibu mengambilkan sup bakso untuk Mas Bima dan memberikan piring itu pada Mas Bima. Dan entah mengapa aku merasa ada yang aneh dengan sikap ibu.
'Apa ini hanya perasaanku saja, ya?'
Aku terbangun saat menyadari Mas Bima tidak ada di sampingku. Aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Lalu pada tas kerja milik Mas Bima yang teronggok di atas meja kamar. Yang berarti Mas Bima sudah pulang. Entah pukul berapa Mas Bima pulang, aku tidak tau. Karena rasa kantuk lebih dulu datang menghampiriku saat aku menunggu kepulangan suamiku.
Aku berdiam di atas ranjang. Seraya mengembalikan kesadaranku dari rasa kantuk. Siapa tau Mas Bima sedang berada di kamar mandi.
Keheningan membuatku penasaran. Setelah cukup lama menunggu, aku turun dari ranjang menuju kamar mandi. Mengecek apakah Mas Bima ada di dalam kamar mandi atau tidak.
Tok ... Tok ...
"Mas!"
"Mas Bima!"
"Mas Bima di dalam?"
Beberapa kali ketukanku tidak terjawab. Aku memutar kenop pintu kamar mandi dan Mas Bima tidak ada di dalam sana.
"Kemana?" ucapku dipenuhi tanya.
Aku mengecek ke arah balkon kamar. Barang kali Mas Bima ada di sana untuk sekedar mencari angin. Kebetulan AC di kamarku memang rusak dan belum diperbaiki. Membuat udara di kamarku cukup gerah. Tapi hasilnya nihil, tidak ada siapapun di balkon kamar.
"Kemana Mas Bima? Apa dia haus dan pergi ke dapur, ya?" monologku pada diriku sendiri.
Meskipun kami sudah saling mengenal cukup lama dan menjalani hubungan pacaran hampir satu tahun. Hal itu tidak lantas membuatku tau tentang kebiasaan Mas Bima. Karena selama ini hubungan kami memang terjalin secara jarak jauh atau long distance. Mas Bima yang harus mengelola toko meubel miliknya di kampung ini. Sementara aku juga harus menyelesaikan kuliahku di kota. Kami bertemu sesekali saat aku cuti kuliah atau saat Mas Bima memiliki waktu pergi ke kota.
Aku memutar gagang pintu kamar. Berjalan menuju ke arahku dapur yang kebetulan masih satu lantai dengan kamarku. Aku tidak menemukan siapapun di sana. Tidak ada Mas Bima. Lalu kemana perginya Mas Bima?
Hatiku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Tapi tidak mendapatkan jawaban. Hingga hampir lima menit aku berdiam di dapur aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Namun langkah kakiku mendadak berhenti di bawah anak tangga. Indra pendengaranku menangkap suara aneh yang sayup-sayup terdengar dari lantai atas. Aku yang penasaran perlahan melangkahkan kakiku satu persatu menaiki anak tangga. Semakin aku naik ke lantai atas suara menjijikan itu semakin terdengar jelas. Suara khas seseorang yang sedang memadu kasih. Menikmati indahnya surga dunia.
Degupan jantungku kian menggila. Tubuhku gemetar hebat. Tanpa sadar langkah kakiku tertuju ke arah kamar ibu. Tempat sumber suara desah*n menjijikkan itu berasal. Desah*n yang menggambarkan betapa panas permainan yang terjadi di dalam sana. Tapi ...
'Bukankah bapak sedang pergi ke luar kota. Lalu dengan siapa Ibu melakukannya. Mas Bima?'
_____
Bersambung ....
Platform Lainnya
Berita Piala Dunia
Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan kirim email ke [email protected]