Nilai-Nilai Pendidikan Budhi Pakerti dalam Topeng Pajegan Bali
Abstrak
Topeng Pajegan juga disebut Topeng wali, karena berfungsi untuk upacara keagamaan dan di pentaskan sejajar dengan wayang gedog/lemah serta dilakukan tepat pada waktu para pandeta melakukan upacara. Topeng inilah yang menentukan Sidhanya atau berhasilnya suatu upacara. Topeng Sidhakarya juga berfungsi sebagai atapukan yang mana segala kekurangan dalam upacara agama, akan dilengkapi dengan adanya Topeng Sidhakarya. Berdasarkan urian tersebut peneliti mencoba mengkaji hal tersebut memberi judul "Nilai-Nilai Pendidikan budhi Pakerti dalam Topeng Pajegan Bali”. Sebagai rumusan masalah (1) Bagaimanakah Bentuk Topeng Pajegan di Bali? (2) Nilai-Nilai Pendidikan Budhi Pakerti apa sajakah yang terdapat dalam Topeng Pajegan? Teori yang digunakan teori estetika, teori metaforik dan teori simiotik, Metode yang digunakan pendekatan struktural. jenis study teks dengan menggunakan pendekatan kualitatif.
Kata kunci: Nilai-nilai Pendidikan Karakter, Topeng Pajegan Bali
Pendahuluan
Bali adalah sebuah pulau kecil yang amat kaya akan warisan seni budaya. Di pulau ini terdapat bermacam-macam kesenian seperti seni tari, karawitan, wayang, dan drama. Kesenian yang tersebar di desa-desa tersebut, hingga kini masih berfungsi, baik sebagai sajian upacara maupun sebagai seni hiburan/tontonan. Keanekaragaman seni pertunjukan yang ada di daerah Bali ini, perlu lebih direalisasikan kepada masyarakat luas, khususnya kepada kalangan generasi muda, melalui pelajaran kesenian, sehingga mereka dapat lebih mengenali kekayaan budaya daerah yang tersebar di seluruh Nusantara untuk kemudian dapat lebih menghayati nilai-nilai artistik dan estetik yang terkandung di dalamnya Dibia (1999). Seni Tari merupakan seni yang perkembangan dan peminatnya sangat tinggi di Bali. Disamping itu hampir disetiap ada upacara agama di Bali, seni tari selalu hadir di dalamnya. Dalam ajaran agama Hindu ada yang namanya sad guna. Sad guna merupakan enam kekuatan yang dipakai untuk beraktivitas atau bekerja di dalam kehidupan, yaitu sebagai : pemaculan atau petani, pedagang, tukang, balian atau usada, pegawai atau sastrawan, dan Pregina. Di kalangan masyarakat Bali seorang penari sering disebut dengan pra gina, Pra gina adalah sebuah gelar profesional kesenimanan yang diberikan oleh masyarakat Bali kepada seniman panggung, khususnya kepada penari dan aktor.
Pra gina merupakan salah satu komponen terpenting dari seni pertunjukan di Bali, khususnya yang berbentuk tari dan drama serta yang menentukan hidup dan matinya seni pertunjukan yang bersangkutan. Untuk menjadi pragina, diperlukan proses pelatihan fisik dan pengisian mental spiritual kesenimanan yang memakan waktu cukup panjang. Di samping itu juga, diperlukan dedikasi dan rasa pengabdian yang tinggi terhadap kesenian dan masyarakat. Banyak pragina yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya kepada bidang kesenian yang menjadi profesi mereka. Pragina yang tidak asing di kalangan masyarakat Bali adalah Pragina Topeng. Topeng adalah sebuah dramatari tradisional yang banyak digemari oleh masyarakat Bali. Disamping hidup dan berkembang di kabupaten dan kota di Bali, topeng merupakan seni pertunjukan yang bisa ditampilkan dalam kaitannya dengan berbagai jenis upacara (panca yadnya) maupun sebagai hiburan yang bersifat sekuler. Hingga kini pertunjukan topeng, masih digemari dan dinikmati dari berbagai kalangan. Ini membuktikan bahwa keberadaan Topeng masih dicintai oleh masyarakat Bali. Salah satunya Topeng yang masih ada sampai saat ini adalah Topeng Pajegan. Topeng Pajegan adalah varian dramatari topeng Bali yang diperkirakan sudah muncul sejak abad ke XVI, sejak zaman pemerintahan Raja Waturenggong (1460-1550) di Bali. Kata "pajegan" adalah suatu istilah di dalam bahasa Bali yang berasal dari kata "pajeg" dan ditambahkan dengan sufiks "an" menjadi "pajegan" yang berarti borongan. Disini berarti seorang penari yang memborong (majeg) tapel dalam jumlah yang banyak. Untuk menganti perubahan peran, penari hanya melakukan pergantian Topeng dan hiasan kepala tanpa melakukan pergantian busana.
Topeng Pajegan juga disebut Topeng Wali, karena berfungsi untuk upacara keagamaan dan di pentaskan sejajar dengan Wayang Lemah (Wayang Upacara) serta dilakukan tepat pada waktu para Sulinggih (penghulu agama) melakukan upacara (Bandem dan Rembang 1976: 11). Dari berjenis-jenis tapel topeng yang dipergunakan di dalam Topeng Pajegan satu di antaranya yang mutlak harus ada, yaitu Topeng Sidhakarya. Topeng inilah yang menentukan Sidhanya atau berhasilnya suatu upacara. Disamping itu Topeng Sidhakarya juga berfungsi sebagai atapukan yang dimana segala kekurangan dalam upacara agama, akan dilengkapi dengan adanya Topeng Sidhakarya.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti mencoba mengkaji hal tersebut dengan memberi judul "Nilai-Nilai Pendidikan budhi Pakerti Dalam Topeng Pajegan Ritual Hindu Bali”. Penelitian ini mempunyai rumusan masalah (1) Bagaimanakah Bentuk Topeng Pajegan di Bali? (2) Nilai-Nilai Pendidikan Budhi Pakerti apa sajakah yang terdapat dalam Topeng Pajegan?
Landasan Teori Penelitian
Sesuai paparan di atas, penelitian ini menggunakan teori estetika, teori metaforik dan teori simiotik. Hal ini dilakukan untuk menghindari pemutlakan salah satu bidang ilmu, entah tentang simbol, tafsiran, dan tentang seni.
Metode Penelitian
Mencermati struktur tari topeng pajegan, digunakan pendekatan struktural. Itu artinya kajian ini bersifat obyektif karena tahap ini teks dikaji secara intrinsik, tanpa mengaitkannya dengan hal yang ada diluar teks itu. Atas dasar itulah, maka penelitian ini, selain penelitian lapangan juga tergolong jenis study teks dengan menggunakan pendekatan kualitatif.
Pembahasan
Bentuk Topeng Pajegan dalam Ritual Bali
Di Bali Tari Topeng merupakan tarian yang identik dengan benda penutup muka. Kata topeng berasal dari kata "tup" yang berarti tutup, karena gejala yang disebut dengan formatik form (pembentukan kata). Kata "tup" ditambah dengan kata "eng" yang kemudian menjadi "tupeng", dan mengalami perubahan sehingga menjadi topeng. Topeng juga dapat didefinisikan sebagai suatu tiruan wajah yang dibentuk atas bahan dasar yang tipis atau ditipiskan, dengan memperhitungkan kelayakan untuk dikenakan sebagai penutup wajah manusia sehingga menutup sebagian atau keseluruhan wajah yang mengenakannya (Sedyawati,1993:). Di Bali sering terdengar bahwa yang digunakan sebagai penutup muka disebut "tapel". Tapel inilah yang digunakan untuk menutup muka penari yang menimbulkan perubahan tokoh yang akan ditarikan, tanpa mengganti busana penari, dimana masing-masing tapel memiliki ciri khas dan karakter masing-masing. Berjenis-jenis tapel yang dipergunakan yaitu tapel-tapel yang berupa binatang, manusia, dewa, setan dan lain sebagainya. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka tari topeng berarti suatu tarian yang memakai topeng atau tapel.
Dilihat dari perkembangannya begitu banyak jenis dramatari Topeng tradisi Bali diantaranya adalah Topeng Pajegan, Topeng Panca, Topeng Prembon, dan terakhir adalah Bondres. Pertunjukan dengan keempat versinya, merupakan unsur terpenting dari warisan budaya Bali yang sampai sekarang masih memiliki peranan penting dalam beberapa aspek kehidupan spiritual dan kultural dari masyarakat Hindu di Bali. Dua hal penting yang menjadi ciri dari seni Petopengan adalah kesenian ini dimainkan oleh pelaku-pelaku yang menggunakan topeng dan kedua lakon yang dibawakannya pada umumnya bersumber dari cerita seni sejarah Bali yang lebih dikenal dengan babad (Bandem,1983).
Sebagai konsep utama, Topeng Pajegan adalah salah satu varian dari empat jenis dramatari Topeng tradisi Bali yang masih populer. Keistimewaan dari Topeng Pajegan ini adalah terletak pada jumlah penarinya yang hanya dilakukan oleh seorang penari tunggal untuk memainkan semua karakter dramatik dari lakon yang digelar. Mengenai arti atau makna dari Topeng Pajegan, I Ketut Kodi merangkumnya dari berbagai sumber. Kata "pajegan" bisa ditafsirkan secara beragam, antara lain bisa bermakna pajeg (borongan), pejagan (penjaga), pajeegan (perwatakan tokoh), ataupun pajegjeg (pengukuh). Pertama dalam hal ini pajeg dalam hal ini berarti borong karena seluruh tokoh-tokoh dramatik beserta tutur monolog, narasi, tembang, dan mantranya diborong, dibawakan, ditarikan, atau dimainkan oleh seorang penari topeng (Bandem dan Rembang, 1976: 12).
Selanjutnya Pajegan sebagai pejagan yang berasal dari kata jaga atau penjaga. Topeng Pajegan inilah yang berfungsi menjaga pendeta dan pelaksana upacara terkait agar tidak terganggu atau menyimpang ke arah hal-hal yang negatif. Selain itu Topeng Pajegan yang diartikan pejagan juga berfungsi menjaga para undangan karena pejagan diharapkan dapat menarik minat dan menghibur para undangan dengan mengilustrasikan makna upacara sehingga mereka yang menyaksikan seni pertunjukan Topeng menjadi tidak bosan dan menikmati serangkaian ritual upacara.
Topeng Pajegan juga diambil dari kata pajeegan yang artinya adalah perwatakan atau perwujudan dari tokoh-tokoh historis penting dan legendaris yang dianggap berjasa dan dapat diteladani oleh masyarakat. Selanjutnya Topeng Pajegan berkonotasi dengan pajegjeg yang berasal dari kata jegje, atau kukuh, tegak, tidak goyah, karena peranan Topeng Pajegan berfungsi untuk menegakkan kaidah-kaidah adat, budaya, dan makna keagamaan yang berakar dan pantas dikembangkan di Bali. Babad dan materi yang dipilih secara selektif dalam pementasan Topeng Pajegan secara tidak langsung dapat menyebarkan nilai-nilai yang layak dikembangkan di dalam kehidupan.
Berdasarkan uraian di atas, pertunjukan Topeng Pajegan melibatkan cerita dan dari cerita tersebut akan menghadirkan tokoh atau peran yang memiliki karakter. Selain itu tokoh dan karakter dapat dilihat dalam seluruh pertunjukan Topeng Pajegan dari awal sampai terakhir. Secara umum ada 4 (empat) peran atau tokoh dengan karakternya, yaitu 1) tokoh Prabu, 2) tokoh Patih, 3) tokoh punakawan atau abdi, dan 4) tokoh rakyat.
Pertunjukan Topeng Pajegan diawali dengan adanya tarian Panglembar yaitu a) Tari Topeng Keras, b) Tari Topeng Tua dan c) Tari Topeng Bujuh atau yang lainnya. Setelah tarian Panglenbar baru dilanjutkan dengan dipentaskan tokoh Punakawan yang disebut dengan Penasar. Pertunjukan dilanjutkan dengan monolog Penasar yang megutarakan dan menguraikan kisah Raja Taki Pati yang melakukan Yadnya, namun sangat disayangkan yadnya yang dilakukan tersebut di rusak oleh seekor kijang. Isi dari monolog tokoh seorang penari biasanya tergantung dari pelakunya, hal ini disebabkan oleh kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki oleh pelaku seni (pregina). Secara umum, peran dan tokoh dalam Topeng, akan memunculkan karakter-karakter dari topeng itu sendiri. Adapun peran dan karakter dari bentuk-bentuk tokoh Topeng Pajegan di Bali diantaranya; Salah satu Topeng yang biasanya dipakai sebagai panglembar adalah Topeng Keras. (Catra 2007: 57) menjelaskan karakter dari Topeng ini adalah keras dengan mata mendelik (dedeling) serta tapel yang dibuat menutupi seluruh muka (bungkulan). Tari topeng tua, topeng ini menirukan raut wajah orang tua, dan cenderung keriput serta memiliki warna cerah kekuning-kuningan. Gerak tariannya lebih banyak memberikan gambaran gerak-gerak maknawi ketimbang gerak stylisasi yang abstrak. Lemah lembut jalan gontai layaknya orang tua, terhuyung, nafas terengah-engah, ulap-ulap membersihkan muka, kepala gatal dan menggaruknya.
Topeng Penasar merupakan tokoh punakawan yang akan memperjelas dan mempertajam alur cerita secara verbal baik dalam bentuk nyanyian, syair, petuah-petuah ataupun wawantaka. Selain penasar di dalam pertunjukan Topeng ada juga tokoh punakawan yang menjadi pasangan dari penasar yang disebut dengan kartala. Kartala ini bertujuan membantu penasar dalam membawakan rangkaian cerita yang akan disampaikan pada audien.
Topeng Dalem Arsa Wijaya adalah Topeng bungkulan yang menutupi seluruh wajah penari. Pada umumnya tapel Dalem berwarna putih atau dapat diberi tone warna agak merah muda bercampur kuning (ngelumad salak). Raut wajahnya manis, mulut sedikit tertawa dengan gigi asat di bawah kumis tipis (mekenyir) (Catra,2007:59). Topeng Sidakarya merupakan Topeng bungkulan yang menutupi seluruh muka penari. Dibandingkan dengan tapel-tapel lain yang digunakan dalam lelampahan, yang kebanyakan memiliki kedekatan dengan wajah manusia (nyeleme), raut wajah Topeng Sidakarya lebih abstrak memiliki ciri ekspresi mengandung kesan magis.
Nilai-Nilai Pendidikan Karakter
Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional: 2008) mendefinisikan karakter sebagai sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Karakter itu adalah nilai-nilai yang bersifat positif yang tumbuh dan terpatri dalam diri serta terjelma dalam prilaku (Komalasari dan Saripudin, 2017: 2). Sedangkan nilai adalah hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan yang mampu menyempurnakan sesuatu yang ingin dituju. Jadi nilai-nilai pendidikan karakter adalah hal-hal yang penting dan berguna yang bersifat mendidik sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti dalam upaya menghadapi berbagai tantangan pergeseran karakter yang dihadapi saat ini. Pendidikan karakter ini bertujuan mengembangkan kemampuan seseorang untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Ada enam pilar penting karakter manusia yang dapat digunakan untuk mengukur dan menilai watak atau prilakunya, yaitu: penghormatan, tanggung jawab, kesadaran berwarganegara, keadilan, kepedulian, dan kepercayaan (Pupuh,2013 : 19).
Adapun nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa yang diidentifikasi adalah sebagai berikut:
- Nilai Religius: yaitu sikap dan prilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
- Nilai Jujur: Prilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercayai dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
- Nilai Toleransi: Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
- Nilai Disiplin: Tindakan yang menunjukkan prilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
- Nilai Kerja Keras: Prilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
- Nilai Kreatif: Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
- Nilai Mandiri: Sikap dan prilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
- Nilai Demokratis: Cara berpikir, bersikap, dan bertindak, yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
- Nilai Rasa Ingin Tahu: Sikap yang selalu berupaya untuk mengetahui dan mempelajari lebih dalam hal yang ingin dipelajari.
- Nilai Semangat Kebangsaan: Selalu mementingkan kepentingan bangsa atau umum daripada kepentingan pribadi dan menumbuhkan semangat kebangsaan untuk mencapai tujuan.
- Nilai Cinta Tanah Air: Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
- Nilai Menghargai Prestasi: Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
- Nilai Bersahabat/Komunikatif: Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
- Nilai Cinta Damai: Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
- Nilai Gemar Membaca: Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebijakan bagi dirinya.
- Nilai Peduli Lingkungan: Sikap dan Tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
- Nilai Peduli Sosial: Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
- Nilai Tanggung Jawab: Sikap dan prilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, negara, dan Tuhan Yang Maha Esa.
Media berasal dari bahasa latin "medius" yang artinya tengah, perantara atau pengantar. Media merupakan segala bentuk alat yang dipergunakan dalam proses penyaluran atau penyampaian informasi. Media pembelajaran merupakan komponen sumber belajar yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang memotivasi siswa untuk belajar. Media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran (Rima,2016: 2-3). Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia media adalah alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk. Sedangkan pembelajaran adalah suatu proses, cara, perbuatan menjadikan belajar. Jadi media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (message), merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan peserta didik sehingga dapat mendorong proses belajarnya.
Dalam penelitian ini media pembelajaran nilai-nilai karakter adalah sebuah media melalui seni pertunjukan topeng pajegan yang dimana dalam setiap dialog, tutur kata atau norma-norma yang disampaikan secara verbal terdapat nilai-nilai karakter yang bersifat mendidik sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti dalam upaya menghadapi berbagai tantangan pergeseran karakter, membantu terwujudnya pencapaian tujuan yang ingin dicapai, serta pengendalian diri dan pembinaan moral masyarakat.
Simpulan
Topeng pajegan merupakan salah satu media penyebaran nilai-nilai karakter, yang berbentuk dramatari petopengan yang merupakan salah satu varian dari empat jenis dramatari topeng tradisional yang masih populer di pulau Bali ini. Dalam pertunjukan topeng, tokoh topeng penasar dan tokoh topeng bondres sering kali menyelipkan dialog-dialog tentang nilai-nilai pendidikan karakter berupa gegendingan, pupuh, lelucon, wewangsalan, pantun berupa kutipan-kutipan sastra, sehingga secara langsung sebagai media penyebaran pendidikan karakter bagi masyarakat di Bali.
Adapun nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam pertunjukan topeng pajegan Bali diantaranya, nilai religius, nilai kejujuran, nilai toleransi, nilai disiplin, nilai kerja keras, nilai demokratis, nilai semangat kebangsaan, nilai cinta tanah air, nilai menghargai prestasi, nilai persahabatan komunikatif, nilai cinta damai, nilai cinta tanah air, nilai peduli sosial, dan nilai tanggung jawab. Nilai-nilai pendidikan karakter inilah yang menjadi sarana yang ampuh sebagai acuan dan penyebaran pada masyarakat umum akan pentingnya nilai-nilai pendidikan karakter di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Platform Lainnya
Berita Piala Dunia
Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan kirim email ke [email protected]