Perbandingan Uji Kuat Tekan Beton Menggunakan Campuran Material Pasir Sungai dan Pasir Vulkanik Gunung Burni Telong (Proposal TGA)

seneca casino niagara falls ny

bein match bet live

mpo terbaru terpercaya

cemaratoto slot

Perbandingan Uji Kuat Tekan Beton Menggunakan Campuran Material Pasir Sungai dan Pasir Vulkanik Gunung Burni Telong (Proposal TGA)

BAB I: PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Kebutuhan bahan bangunan untuk pekerjaan sipil terus meningkat, baik untuk membangun struktur gedung pemerintahan, perkantoran, ruko, perumahan, pasar, masjid, sekolah, maupun perumahan. Bencana alam sering terjadi di Indonesia, salah satunya letusan gunung api yang mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa. Ledakan gunung tersebut memuntahkan material berupa lahar panas dan abu vulkanik yang tersebar di seluruh lereng. Banyaknya material abu vulkanik di dekat lokasi gunung api mendorong perlunya penelitian penggunaan abu vulkanik sebagai pengganti pasir untuk campuran beton, khususnya dalam perbandingan uji kuat tekan beton menggunakan material pasir sungai dan pasir vulkanik gunung Burni Telong.

I.2 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan kuat tekan beton campuran agregat pasir sungai dan agregat pasir vulkanik serta untuk menghemat pemakaian semen pada beton.

I.3 Manfaat Penelitian

  • Sebagai bahan informasi bagi perencana dan pelaksana bangunan teknik sipil.
  • Memberikan informasi kepada pemerintah tentang penggunaan material pasir vulkanik untuk bahan bangunan.

I.4 Rumusan Masalah

Proposal ini berjudul "Pengujian Perbandingan Uji Kuat Tekan Beton Menggunakan Campuran Agregat Pasir Sungai dan Agregat Pasir Vulkanik Gunung Burni Telong Kab. Bener Meriah".

I.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan proposal ini adalah sebagai berikut:

  • BAB I PENDAHULUAN: Menguraikan latar belakang, perumusan masalah, batasan penelitian, maksud dan tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penelitian.
  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA: Menguraikan dan membahas bahan bacaan yang relevan sebagai dasar untuk mengkaji permasalahan dan menyiapkan landasan teori.
  • BAB III METODOLOGI PENELITIAN: Menguraikan tahapan penelitian, pelaksanaan, teknik pengumpulan data, peralatan, jenis data, pengambilan data, dan analisis data.
  • BAB IV ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH: Menguraikan analisis perhitungan dan pemecahan permasalahan.
  • BAB V KESIMPULAN DAN SARAN: Menguraikan kesimpulan dari analisis yang dilakukan serta saran-saran.

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pengertian Beton

Beton adalah campuran antara semen Portland, air, dan agregat (halus dan kasar) dengan atau tanpa bahan tambahan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan beton meliputi proporsi bahan, perbandingan campuran semen dan air, cara mencampur komponen, agregat kasar, ketelitian perawatan, umur beton, dan suhu udara saat pencampuran serta pengerasan.

II.2 Material Pembentuk Beton

II.2.1 Semen

Semen merupakan bahan hidrolis yang bereaksi secara kimia dengan air membentuk material padat. Komposisi kimia semen Portland meliputi:

OksidaKomposisi (% berat)
CaO (kapur)60 – 67
SiO2 (Silika)17 – 25
Al2O3 (Alumina)3 – 8
Fe2O3 (Besi)0,5 – 6
MgO (Magnesia)0,1 – 5,0
Alkalis0,2 – 1,3
SO3 (Sulfur)1 – 3

Semen Portland dibagi menjadi lima jenis: Jenis I untuk umum tanpa persyaratan khusus, Jenis II untuk beton tahan sulfat dengan panas hidrasi sedang, Jenis III untuk kekuatan awal tinggi (cepat mengeras), Jenis IV untuk panas hidrasi rendah, dan Jenis V untuk beton sangat tahan terhadap sulfat.

II.2.2 Agregat

Agregat adalah material granular seperti pasir, kerikil, dan batu pecah yang dipakai bersama media pengikat untuk membentuk beton. Agregat menempati sekitar 70%–75% volume beton yang telah mengeras. Semakin padat susunan agregat, semakin kuat beton yang dihasilkan. Permukaan agregat harus bebas dari kotoran seperti tanah liat, lumpur, dan zat organik agar tidak mengganggu ikatan dengan semen.

Persyaratan agregat untuk beton meliputi kebersihan dari bahan organik, gradasi yang baik, dan tidak bereaksi kimia dengan semen.

II.2.3 Air

Air yang digunakan untuk pembuatan beton harus bersih dan memenuhi syarat air minum. Kadar air yang terlalu sedikit menyulitkan pengerjaan, sedangkan kadar air berlebih mengurangi kekuatan beton dan menyebabkan penyusutan setelah mengeras. Untuk memperoleh kepadatan dengan rasio air semen rendah, sebaiknya digunakan alat penggetar adukan (vibrator). Kelembaban dan panas perlu dijaga konstan selama proses hidrasi, misalnya dengan menutupi permukaan dengan karung basah.

II.3 Pengujian Kuat Tekan Beton

Menurut ASTM C 39-86, kuat tekan beton dihitung dengan membagi beban maksimum dengan luas permukaan sampel beton, dirumuskan sebagai berikut: f'c = P/A, dengan f'c adalah kuat tekan beton (MPa), P adalah beban tekan maksimum (N), dan A adalah luas penampang tertekan (mm²). Dari hasil pengujian akan diperoleh pola keruntuhan sesuai mutu benda uji berdasarkan ASTM C 39-93.

Hubungan Faktor Air Semen dengan Kuat Tekan Beton

Kuat tekan beton umur 28 hari (kg/cm²)Faktor Air Semen
4110,35
3310,42
2630,50
1930,60
1530,70

Langkah perancangan campuran beton meliputi: menghitung berat semen per m³ dengan membagi jumlah air dengan faktor air semen, menentukan persentase volume agregat kasar, menghitung volume agregat halus dari selisih volume total beton dengan volume semen, agregat kasar, air, dan udara terperangkap, serta menentukan berat agregat halus dan berat total.

BAB III: METODE PENELITIAN

III.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen untuk memperoleh data dan hasil melalui pengujian laboratorium.

III.2 Variabel Penelitian

  • Variabel terikat: penggunaan beton K-225 sebagai bahan uji.
  • Variabel bebas: kuat tekan beton dengan mutu beton rencana.

III.3 Desain Penelitian

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian direncanakan di Laboratorium Bahan dan Konstruksi Teknik Sipil.

Bahan yang Digunakan
  • Semen Portland tipe I dalam kemasan 50 kg/zak dalam keadaan baik dan tertutup rapat.
  • Agregat halus berupa abu vulkanik dari Gunung Burni Telong lereng selatan dengan modulus kehalusan 2,5–2,8 mm, diuji kadar lumpur, kadar air, berat jenis SSD, berat volume, berat jenis kering, dan penyerapan agregat.
  • Agregat kasar berdiameter maksimal 20 mm, diperiksa kadar air, berat jenis SSD, modulus kehalusan butir, berat volume, dan penyerapan air agregat.
  • Air yang digunakan harus bebas dari unsur kimia dan memenuhi syarat air minum.
Alat yang Digunakan
  • Molen untuk pencampuran material (semen, agregat halus, agregat kasar, dan kerikil).
  • Pengecekan ulang di dalam molen sebelum mesin dioperasikan.
  • Cetakan untuk penghamparan material di lapangan.
  • Perataan material di dalam cetakan.
  • Vibrator untuk pemadatan beton.
  • Perataan kembali material.

DAFTAR PUSTAKA

  • Dipohusodo, Istimawan. 1996. Struktur Beton Bertulang Berdasarkan SK SNI T-15-1991-03 Departemen Pekerjaan Umum RI. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  • Handoko, Widiyo. 2002. Pengaruh Penggunaan Agregat Kasar Batu Putih Terhadap Kuat Tekan Beton. Bandar Lampung: Universitas Malahayati.
  • Junianto, Iwan. 2002. Pengaruh Perubahan Temperatur Terhadap Kuat Tarik Lentur Beton Mutu Tinggi. Bandar Lampung: Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung.
  • Nugraha, Paul dan Antoni. 2007. Teknologi Beton Dari Material, Pembuatan, ke Beton Kinerja Tinggi. Yogyakarta: Penerbit ANDI.
  • Satyarno, Imam. 2004. Panel Beton Styrofoam Ringan Untuk Dinding. Yogyakarta: Jurusan Teknik Sipil FT UGM.
  • Sebayang, Surya dan Sahat Josua Silalahi. 2000. Buku Penuntun Praktikum di Laboratorium Bahan dan Konstruksi. Bandar Lampung: Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung.
  • Tjokrodimulyo, Kardiyono. 1996. Teknologi Beton. Yogyakarta: Nafiri Edisi Pertama.
bricks adalah

▲ Kembali ke atas

Platform Lainnya

grand lisboa casino

tvg

zodiac slots

lk21 comic 8 casino king part 2

Berita Piala Dunia

comeon casino review

365 slots

dragon 99 slot

how to play casino

Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan kirim email ke [email protected]

▲ Kembali ke atas