Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
ISSN: 0853196X, EISSN: 26148889
Volume 34 Nomor 1, 2026
Respons Pertumbuhan dan Serapan Hara Fosfat Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Pada Media Gambut Yang Diaplikasi Amelioran dan Pupuk Hayati
Rizky Utami, Nanda; Rauf, Abdul; Sembiring, Mariani
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 34 No 1 (2026) - Penerbit: Pusat Penelitian Kelapa Sawit
DOI: 10.22302/jur.v34i1.229
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian amelioran dan pupuk hayati terhadap pertumbuhan, hara P ditanah serta serapan hara pada tanaman. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca, Fak. Pertanian Universitas Sumatera Utara dengan menggunakan tanah gambut, abu vulkanik, zeolit, mikoriza dan bakteri pelarut fosfat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor. Faktor pertama pupuk hayati : kontrol, bakteri pelarut fosfat (BPF), fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan kombinasi BPF dengan FMA. Faktor kedua amelioran : kontrol, abu vulkanik, zeolit dan kombinasi abu vulkanik dengan zeolit : dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan tinggi bibit kelapa sawit dimana perlakuan terbaik pada pemberian FMA (1.97% - 7.88%) dan perlakuan terbaik pada pemberian Abu vulkanik (4.27% - 7.07%), pada pengamatan pH tanah pemberian amelioran berpengaruh nyata (3.53% - 4.5%) pada keseluruhan bahan sedangkan dari pemberian pupuk hayati juga berpengaruh nyata terhadap peningkatan pH tanah (1.41% - 3.84%) pada keseluruhan bahan yang diberikan, pada pengamatan P tersedia tanah pemberian pupuk hayati berpengaruh terhadap peningkatan nilai P tersedia tanah dimana nilai terbaik pada pemberian BPF (10.31%) sedangkan pemberian amelioran juga memberikan pengaruh nyata dimana perlakuan terbaik pada pemberian abu vulkanik (30.63%) dan pada pengukuran serapan hara P pemberian pupuk hayati memberikan pengaruh yang baik (meningkat) (13.41%) dibandingkan dengan kontrol namun pada pemberian amelioran terdapat penurunan hasil serapan P dibandingkan dengan kontrol dengan nilai terendah pada pemberian zeolit (-1.56%). Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa amelioran dan pupuk hayati dapat direkomendasikan untuk tanah marginal khususnya tanah gambut sebagai bahan pendukung media tubuh pada pembibitan kelapa sawit.
Dampak Ukuran Perusahaan, Beta, dan Peringkat ESG terhadap Efisiensi Perusahaan Kelapa Sawit yang Terdaftar di IDX Selama Periode Krisis
Pritasari Wybawa, Erika; Yuliansyah, M. Roby
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 34 No 1 (2026) - Penerbit: Pusat Penelitian Kelapa Sawit
DOI: 10.22302/jur.v34i1.305
Industri kelapa sawit terbukti sebagai sub-sektor pertanian yang tangguh, terutama selama krisis COVID-19, berkontribusi signifikan terhadap PDB nasional Indonesia dan mendukung pemulihan keuangan pada periode pasca-pandemi. Penelitian ini mengkaji pengaruh ukuran perusahaan, Beta (volatilitas saham), dan peringkat ESG terhadap skor efisiensi perusahaan kelapa sawit. Sebanyak 20 entitas yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (IDX) dianalisis selama periode 5 tahun (2019–2023), termasuk 9 perusahaan dengan peringkat ESG. Metode DEA double bootstrap dengan regresi linier terpotong kiri pada 1 digunakan untuk mengestimasi model. Hasil menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi, sedangkan Beta berpengaruh negatif, mengindikasikan bahwa volatilitas yang lebih tinggi mengurangi kinerja. Perusahaan dengan peringkat ESG secara konsisten mengungguli perusahaan tanpa peringkat, menunjukkan efek positif dari praktik berkelanjutan. Studi ini memberikan kontribusi baru, karena belum ada penelitian sebelumnya yang mengeksplorasi variabel-variabel ini di industri kelapa sawit Indonesia. Temuan ini menawarkan wawasan berharga bagi praktisi industri dan pembuat kebijakan, menekankan pentingnya integrasi ESG untuk peningkatan efisiensi dan pertumbuhan berkelanjutan, serta mendukung perumusan kebijakan untuk meningkatkan ketahanan sektor ini di masa krisis mendatang.
Implementasi Model YOLOv5 untuk Estimasi Jumlah Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
Sri Muna, Mukhes; Syarovy, Muhdan; Suwardi, Suwardi; Prima Nugroho, Andri; Setiyo, Yohanes; Surya Wirawan, I Putu
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 34 No 1 (2026) - Penerbit: Pusat Penelitian Kelapa Sawit
DOI: 10.22302/jur.v34i1.335
Deteksi dan estimasi jumlah tanaman kelapa sawit merupakan aspek penting dalam pengelolaan perkebunan. Metode konvensional yang mengandalkan pencatatan manual memiliki kelemahan dalam hal efisiensi, akurasi, dan biaya. Oleh karena itu, penelitian ini mengimplementasikan model YOLOv5 sebagai pendekatan berbasis deep learning untuk mendeteksi tanaman kelapa sawit dari citra udara. Dataset yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari gambar hasil foto udara perkebunan kelapa sawit PT Kerry Sawit Indonesia (KSY) 1 dan telah melalui tahapan pra-pemrosesan, pelabelan, serta pelatihan menggunakan Google Colaborator. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan data uji dari gambar hasil foto udara kebun percobaan Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model YOLOv5 memiliki tingkat akurasi sebesar 96,85%, presisi 98,48%, recall 98,32%, dan F1-score 98,40%. Dibandingkan dengan metode sebelumnya, YOLOv5 menunjukkan keseimbangan antara kecepatan deteksi dan akurasi yang tinggi, menjadikannya solusi yang lebih efektif untuk estimasi jumlah tanaman kelapa sawit dalam skala besar.
Komposisi Umur Tanaman Ideal di Perkebunan Kelapa Sawit
Pradiko, Iput; Agung Thirafi, Dhaffa; Sahputra, Desra; Muslim, M. Yusuf; Eko Prasetyo, Agus; Muhayat, Muhayat
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 34 No 1 (2026) - Penerbit: Pusat Penelitian Kelapa Sawit
DOI: 10.22302/jur.v34i1.348
Komposisi umur tanaman merupakan salah satu aspek penting dalam sistem manajemen perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi umur tanaman yang ideal guna mencapai produksi tinggi yang stabil dalam jangka panjang. Melalui simulasi produksi selama satu siklus tanam (25 tahun) pada 13 skenario komposisi umur, dilakukan analisis menggunakan pendekatan Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) dengan Metode Multi-Attribute Utility Theory (MAUT). Hasil analisis menunjukkan bahwa komposisi umur ideal terdiri dari 12% Tanaman Belum Menghasilkan (TBM, 0-3 tahun), 20% Tanaman Muda (TMD, 4-8 tahun), 20% Tanaman Remaja (TMR, 9-13 tahun), 28% Tanaman Dewasa (TDW, 14-20 tahun), 16% Tanaman Tua (TTA, 21-25 tahun), dan 4% Tanam Ulang (TU, >25 tahun). Komposisi ini mampu menghasilkan rerata umur tanaman (RUT) optimal sekitar 13,22 tahun dengan tingkat produksi tinggi dan fluktuasi yang rendah. Lebih lanjut, kajian ini juga menegaskan pentingnya perencanaan replanting yang sistematis dan berkelanjutan agar proporsi umur tanaman tetap seimbang, terutama bagi kebun dengan komposisi umur yang tidak ideal. Strategi ini menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan efisiensi produksi usaha perkebunan kelapa sawit.
Dampak Air Terhadap Perubahan Sifat Fisik, Kimia, dan Struktur Mikro Biochar dari Tandan Kosong Kelapa Sawit
Hidayat, Benny; Mayly, Syarifa; Mufriah, Dini; Muhammad, Fachri; Sari, Kemala
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 34 No 1 (2026) - Penerbit: Pusat Penelitian Kelapa Sawit
DOI: 10.22302/jur.v34i1.366
Air sangat penting bagi kehidupan, dan perlakuan perendaman telah terbukti secara signifikan mengubah sifat biochar, terutama dengan mengubah sifat hidrofobiknya menjadi hidrofilik dan lainnya. Transformasi ini menyebabkan berbagai perubahan dalam karakteristik fisikokimia material. Dalam penelitian ini, biochar yang dihasilkan melalui pirolisis tandan kosong kelapa sawit (TKKS) menggunakan metode kiln dianalisis untuk menilai sifat fisiknya sebelum dan sesudah perendaman dalam air suling. Morfologi permukaan dan komposisi unsur dievaluasi menggunakan Scanning Electron Microscopy yang digabung dengan Energy Dispersive X-ray Spectroscopy (SEM-EDX), sementara luas permukaan spesifik diukur menggunakan metode Brunauer–Emmett–Teller (BET). Analisis tambahan, termasuk pH, kerapatan curah, kapasitas menahan air, dan kadar air, dilakukan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Laboratorium Biologi Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Hasil menunjukkan bahwa perendaman air menyebabkan perubahan nyata pada karakteristik biochar. pH biochar sedikit menurun dari 10,09 pada biochar TKKS kering menjadi 9,54 pada sampel yang direndam. Sementara biochar yang direndam menunjukkan konsentrasi yang lebih tinggi dari sebagian besar unsur hara, kandungan karbon (C) tetap lebih tinggi pada biochar kering sebesar 65,06%. Analisis BET mengungkapkan bahwa luas permukaan biochar kering (79,446 m²/g) jauh lebih besar daripada biochar yang direndam (38,783 m²/g). Sebaliknya, biochar yang direndam menunjukkan kinerja unggul dalam hal kerapatan curah (0,34 g/cm³), kapasitas menahan air (10,51%).