AKSESIBILITAS PENGGUNA PADA RUANG KANTIN

bet pam tps

secrets of the phoenix slot

statistik boavista vs estoril

dewa game 88 slot

AKSESIBILITAS PENGGUNA PADA RUANG KANTIN

Studi Kasus: Ruang Kantin Gedung C, Departemen Arsitektur Universitas Diponegoro

Ruang Kantin merupakan fasilitas umum yang digunakan oleh pengunjungnya untuk makan, di mana ruang lingkupnya sendiri yaitu tempat menjual dan membeli makanan. Terkadang kantin dimanfaatkan sebagai ruang komunal yaitu ruang untuk berbincang antar individu atau kelompok. Dengan dimanfaatkannya ruang kantin ini sebagai komunal, banyak aktivitas pengguna yang beragam. Perilaku individu yang berbeda dapat dipengaruhi dari diri maupun lingkungan sekitar. Oleh karena itu perlu adanya penelitian untuk mengetahui pola perilaku pengguna ruang kantin di Kampus Departemen Arsitektur. Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan mengamati dan mengambil data dengan berkunjung langsung ke lokasi penelitian dengan menekankan pergerakan pengguna pada suatu periode dan mengamati bagaimana pengguna memilih sirkulasi untuk mengakses ruang kantin. Lalu data dianalisis dan menghasilkan faktor yang mempengaruhi aksesibilitas yaitu sirkulasi, kepadatan dan kesesakan, dan juga kenyamanan. Ruang kantin pada Departemen Arsitektur masih memiliki masalah utama yaitu aksesibilitas, memiliki luas ruang yang kecil dan jarak antar furnitur terlalu dekat membuat ruang gerak dan jalan menjadi terganggu. Oleh karena itu perlu adanya relokasi pada ruang kantin.

Kata kunci : Ruang Kantin, Aksesibilitas, Sirkulasi, Pengguna

1. PENDAHULUAN

Kantin adalah tempat usaha komersial menyediakan makanan dan minuman untuk umum di tempat usahanya. Kantin merupakan salah satu bentuk fasilitas umum, yang keberadaannya selain sebagai tempat untuk menjual makanan dan minuman juga sebagai tempat bertemunya segala macam masyarakat dalam hal ini mahasiswa maupun karyawan yang berada di lingkungan kampus. Para mahasiswa dan dosen sebagai pengguna, menggunakannya selain untuk makan dan minum, terkadang dimanfaatkan sebagai ruang komunal yaitu ruang untuk berbincang antar orang atau kelompok. Aktivitas yang ada pada ruang kantin sangat beragam, ada yang sekedar singgah sejenak (duduk), bermain hp, makan dan minum, berbincang, dan mengerjakan tugas. Penyimpangan fungsi utama ruang kantin akibat dari perilaku pengguna yang ada. Perilaku individu ini dapat dipengaruhi dari diri maupun pengaruh dari lingkungan yang ada. Sebagai contoh perilaku individu dalam memilih tempat duduk pada ruang kantin dapat didasari aktivitas, kepentingan, atribut pengguna dan atribut pada lingkungan ruang kantin. Pada penelitian akan mengkaji dan menganalisis hubungan antara perilaku dengan lingkungan (kantin), terutama faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku manusia dalam menentukan tempat dan jalur sirkulasi pada ruang kantin Kampus Departemen Arsitektur.

2. DATA OBJEK PENELITIAN

Pada penelitian ini mengambil ruang kantin yang terletak di Lantai 1 Gedung C di Departemen Arsitektur. Pengamatan dilakukan pada Kamis, 17 Oktober 2019 pukul 11.50-12.40 WIB dengan jumlah responden 27 orang.

3. PENGERTIAN KANTIN DAN AKSESIBILITAS

Kantin merupakan ruangan dalam sebuah gedung umum yang dapat digunakan oleh pengunjungnya untuk makan. Kantin sendiri masuk ke dalam fasilitas umum yang dimana ruang lingkupnya sendiri yaitu tempat menjual dan membeli makanan, kantin juga menjadi tempat berkumpulnya siswa, mahasiswa, maupun karyawan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, "Kantin adalah ruang tempat menjual minuman dan makanan (di sekolah, di kantor, di asrama, dan sebagainya)". Makanan yang disediakan oleh kantin haruslah halal dan bersih. Kantin sendiri harus mengikuti prosedur tentang cara menjaga kebersihan dan mengolah kantin. Adapun syarat lokasi dan bangunan menurut kepmenkes 1098/Menkes/SK/VII/2003 adalah :

  1. Lokasi
  2. Bangunan
  3. Konstruksi
    1. Lantai
    2. Dinding
  4. Ventilasi
  5. Pencahayaan
  6. Atap
  7. Langit-langit
  8. Pintu

Dalam hubungan antara pengguna di dalam ruang kantin, pengguna akan memberikan respon mereka masing-masing yang berbeda tergantung oleh beberapa hal. Oleh karena itu diperlukan kajian mengenai aspek apa saja yang mempengaruhi perilaku pengguna di dalam ruang kantin. Untuk melihat berbagai aspek perilaku manusia maka diperlukan kajian atribut apa saja yang berpengaruh dalam lingkungannya. Menurut J. Wiesman (1981) ada tiga komponen yang mempengaruhi interaksi antara manusia dengan lingkungannya, kerangka interaksi tersebut disebut model sistem perilaku lingkungan, model tersebut yaitu:

  • Setting fisik disebut lingkungan fisik, tempat tinggal manusia. Setting dapat dilihat dalam dua hal, yaitu komponen dan properti.
  • Fenomena Perilaku individu manusia yang menggunakan setting fisik dengan tujuan tertentu.
  • Organisasi, organisasi dapat dipandang sebagai institusi atau pemilik yang mempunyai hubungan dengan setting. Kualitas hubungan antara setting dengan organisasi disebut atribut atau "Fenomena Perilaku".

Dalam penelitian ini digunakan teori utama yang berasal dari Weisman. Menurut Weisman (1981) atribut yang muncul dari interaksi ini diantaranya :

  1. Kenyamanan (comfort)
  2. Sosialitas (sociality)
  3. Visibilitas (visibility)
  4. Aksesibilitas (accessibility)
  5. Adaptabilitas (adaptability)
  6. Rangsangan inderawi (sensory stimulation)
  7. Kontrol (control)
  8. Aktivitas (activity)
  9. Kesesakan (crowdedness)
  10. Privasi (privacy)
  11. Makna (meaning)
  12. Legabilitas (legability)

Seluruh atribut tersebut merupakan aspek perilaku terhadap interaksi dengan lingkungannya. Menurut Muta'ali (2015) aksesibilitas merupakan suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan yang dapat dicapai oleh orang, terhadap suatu objek, pelayanan ataupun lingkungan. Ukuran aksesibilitas yaitu adanya kemudahan waktu, biaya, dan usaha pada saat pengguna melakukan perpindahan antar tempat. Dengan kata lain aksesibilitas yaitu kemudahan seseorang untuk bergerak melalui dan menggunakan lingkungan berupa sirkulasi (jalan) dan visual. Seseorang dapat melakukan aktivitasnya dengan mudah tanpa hambatan pada jalan maupun secara visual, hal ini dikarenakan aksesibilitas menjadi salah satu hal penting dalam interior yang dapat mempengaruhi pergerakan pengguna yang dapat berdampak pada proses pelayanan semua pengguna.

4. METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini menggunakan Person Centered Mapping dengan mengamati pergerakan pengguna pada suatu periode waktu tertentu dan Place Centered Mapping dengan mengamati bagaimana pengguna memilih sirkulasi untuk mengakses ruang kantin. Metode pengumpulan data pada penelitian ini meliputi data primer yang diperoleh melalui observasi langsung. Alat bantu yang digunakan untuk observasi berupa alat penghitung manual, telepon genggam, serta alat tulis. Data sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah dokumentasi pribadi serta informasi umum yang diperoleh dari internet.

5. DATA DAN ANALISA

Analisis Person Mapping

Teknik survei perilaku ini menekankan pada pergerakan manusia pada suatu periode waktu tertentu. Dengan demikian teknik ini akan berhubungan tidak hanya satu tempat akan tetapi dapat beberapa tempat. Teknik ini juga hanya berhadapan langsung dengan seseorang yang khusus diamati. Tujuannya yaitu untuk mendapatkan pemetaan terhadap pengguna ruang kantin dan menggambarkan pola perilaku pengguna dan aktivitasnya. Berdasarkan Data Arsitek Jilid 1, lebar dua orang pada sejajar adalah 1.15 m dan 1 m jika tidak sejajar. Jalur etalase merupakan jalur yang sering dilewati dikarenakan lebih mudah diakses. Pada bagian etalase makanan skenario yang sering terjadi adalah dua orang yang tidak sejajar. Jarak sirkulasi depan etalase sekitar 1.2 m (jarak antara meja makan dan meja etalase). Lebar tersebut terhalang dengan kolom bangunan pada etalase dan pembatas penutup besi etalase. Sehingga jarak menjadi berkurang dan aksesibilitas terhalang.

Analisis Place Mapping

Dalam penelitian ini digunakan metode place centered map untuk melihat bagaimana manusia mengatur dirinya dalam suatu lokasi tertentu (Sommer dkk,1980). Teknik survei ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana seseorang atau kelompok memanfaatkan, menggunakan perilakunya dalam situasi waktu dan tempat tertentu. Dalam teknik ini, langkah pertama yang harus dilakukan yaitu membuat sketsa pada tempat yang akan diamati. Hal yang perlu diingat yaitu peneliti harus tahu dengan situasi tempat yang akan diamati serta menentukan tanda atas sikap perilaku. Kemudian dalam waktu kurun tertentu, peneliti mencatat berbagai perilaku yang terjadi dalam tempat tersebut dengan gambaran simbol pada sketsa yang sudah disiapkan.

Meja yang sering digunakan yaitu meja 1 dan 2. Meja 1: meja ini dekat dengan dapur kotor, koperasi dan dapur kering. Meja 2: meja ini bersebelahan langsung dengan dapur kering yang merupakan tempat memesan dan penyajian makanan. Meja yang sedikit digunakan yaitu meja 6 dan 7. Meja 6: dekat dengan dapur kotor. Saat pagi atau siang, meja panas akibat sinar matahari walaupun ada tritisan atap. Meja 7: tidak terkena sirkulasi utama. Meja yang jarang digunakan yaitu meja 3, 4, dan 5. Meja 3: dekat dengan jalur sirkulasi dari arah tangga. Meja 4: jauh dari dapur kering. Saat pagi atau siang, meja panas akibat sinar matahari walaupun ada tritisan atap. Meja 5: space ruang yang sedikit dan jauh dari dapur kering.

Aksesibilitas

Aksesibilitas pada kantin terkait dengan kemudahannya dalam mengakses bagian atau ruang pada kantin. Sistem kerja pada ruang kantin yaitu pengguna dapat memesan makanan dengan mudah, dan dapat menentukan tempat duduk sesuai dengan keinginannya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi aksesibilitas:

  1. Sirkulasi
    Sebagian besar kegiatan pengunjung di ruang kantin adalah bergerak dan duduk. Pergerakan ini menyebabkan perpindahan dari titik satu ke tempat yang lain di dalam ruang sehingga membentuk sebuah pola yang terstruktur yang biasa disebut dengan sirkulasi. (Suptandar, J. Pamuji, 1998, h. 119). Sirkulasi yang diukur adalah sirkulasi utama di dalam ruang kantin, sirkulasi jarak antar etalase makan dan sirkulasi furniture. Melihat data di lapangan, zona sirkulasi pada area dalam kantin menggunakan sistem sirkulasi linier (sirkulasi berbentuk lurus yang menjadi unsur pembentuk utama deretan ruang atau area) karena jalur sirkulasi mengelilingi area/ruang kantin yang bentuknya berbelok arah dan memotong jalan.

    Sirkulasi Alur Utama
    Menurut buku ergonomi, zona sirkulasi untuk satu orang 76 cm, zona sirkulasi pelayan adalah 90 cm, dan untuk zona aktivitas pembelian adalah 45 cm. Jumlah kebutuhan sirkulasi area ini sebesar 211 cm. Sedangkan untuk alur utama dalam kantin hanya sebesar 120 cm. Melihat data, dapat terlihat zona sirkulasi untuk aktivitas pelayanan, pembelian dan sirkulasi jalan belum memenuhi standar ergonomi sehingga pada area ini menimbulkan kepadatan dan harus bergantian jika ingin jalan.

    Sirkulasi Aktivitas Makan
    Sirkulasi jarak antara manusia dengan furniture pada area aktivitas makan yang diukur yaitu 25 cm. Menurut buku ergonomi, jarak manusia terhadap furniture untuk aktivitas makan adalah 45,7 – 60 cm. Melihat data yang ada di lapangan diketahui bahwa sirkulasi jarak antara manusia dengan furniture pada aktivitas makan tidak memenuhi standar ergonomi sehingga ketika ada dua orang yang sedang melakukan aktivitas makan akan merasa tidak nyaman karena tidak ada jarak antar manusia (bertemu punggung dengan punggung).
SirkulasiHasil dataStandar ErgonomiKesimpulan
Sirkulasi utama120 cm211 cmTidak memadai
Jarak antar etalase dan furnitur120 cm60 cmSudah cukup memadai
Aktivitas makan25 cm45,7 – 60 cmTidak memadai
  1. Kepadatan dan Kesesakan
    Berdasarkan hasil di lapangan terdapat kepadatan dan kesesakan dalam ruang kantin akibat dari ketidaksebandingnya luasan ruang dan kapasitas pengguna. Semakin tinggi kepadatan dan kesesakan tentu akan mempengaruhi pergerakan para pengguna dalam menjangkau area yang ada di dalam ruang kantin. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terjadinya kepadatan dan kesesakan di dalam ruang kantin terutama pada daerah dapur, koperasi dan etalase makanan dikarenakan peneliti melakukan pada jam makan siang, hal ini menjadi faktor terbesar terjadinya kepadatan dan kesesakan.
  2. Kenyamanan
    Kenyamanan yang dimaksud sendiri yaitu kecepatan pelayanan dari penjual. Pengguna ruang kantin sering kali dikeluhkan dengan kurang tanggapnya penyajian makanan atau minuman yang dipesan. Sirkulasi penjual hanya sebatas dapur kotor ke dapur bersih, akses ini hanya dilakukan penjual apabila menerima pesanan. Dikarenakan dapur terpisah sehingga penyajian makanan dan minuman menjadi lama. Hal ini dikarenakan penjual tidak mencatat atau tidak adanya penataan pada saat memesan makanan atau minuman sehingga terkadang penjual tidak tahu siapa yang telah memesan makanan dan terkadang juga hasil pesanan tersebut jatuh ke orang yang salah. Kenyamanan fisik pada ruang kantin ini yaitu jarak antar meja dan kursi makan masih belum memenuhi standar. Jarak antara kursi dengan dinding minimal 70 cm, karena satu kursi membutuhkan ruang gerak sebesar 50 cm. Pengaturan ruangan antara meja dengan dinding dijaga sebagai jalan kecil, sehingga jarak ini seharusnya minimal 100 cm. Sementara untuk meja bundar memerlukan ruang gerak yang lebih besar, dengan perbedaan yang bisa hingga 50 cm dengan meja pada umumnya.

6. KESIMPULAN

Ruang kantin merupakan fasilitas umum yang berfungsi untuk menjadi tempat menjual dan membeli. Ruang kantin pada Departemen Arsitektur masih memiliki masalah utama yaitu aksesibilitas, memiliki luas ruang yang kecil dan jarak antar furnitur terlalu dekat membuat ruang gerak dan jalan menjadi terganggu. Selain aksesibilitas, beberapa atribut yang mempengaruhi yaitu kepadatan dan kesesakan, sirkulasi dan kenyamanan.

NoMasalahPropertiAtribut
1Luas ruang makan 77,76 m²Memperbesar luas ruang kantinKenyamanan
2Jarak antar meja dan kursi makan berjarak 25 cmJarak meja dan kursi makan dibuat lebih lebarKenyamanan
3Kasir (tempat pemesanan) dengan ruang makan memiliki jarak 100,9 cmJarak sirkulasi ruang kantinKenyamanan dan aksesibilitas
4Kasir (tempat pemesanan) dan dapur memiliki tempat yang terpisahTempat pemesanan dan dapur digabungkanAksesibilitas
5Kapasitas pemesanan hanya 1-2 orangMemperluas tempat pemesananKenyamanan

Dalam melakukan sebuah rancangan ulang perlu adanya guideline sebagai dasar dalam merancang:

  • Kenyamanan : memperbesar kapasitas ruang kantin dengan memindah lokasinya
  • Kenyamanan : jarak setidaknya 60-100 cm sesuai dengan standar lebar orang
  • Kenyamanan dan aksesibilitas : jarak sirkulasi mencakup 2 orang atau lebih dengan lebar ≥120 cm sesuai dengan standar lebar orang
  • Aksesibilitas : kasir (tempat pemesanan) dan dapur dibuat menjadi satu atau bersebelahan
  • Kenyamanan : kapasitas tempat pemesanan mencakup lebih dari 2 orang

7. REKOMENDASI

Sebelum adanya relokasi tempat ruang kantin, hal pertama yang dilakukan yaitu mencoba menganalisa apakah ruang kantin pada gedung C memang tidak memadai apabila digunakan sebagai tujuannya di awal. Menggabungkan dapur dan etalase makanan yang pada awalnya dipisah dan melakukan tata ulang pada furniture sesuai ukuran ergonomi hanya mendapatkan meja dan kursi sebanyak 5 buah. Dan untuk dapur sirkulasi hanya sebesar 2,1 m yang artinya tidak cukup untuk digunakan sebagai sirkulasi pelayanan. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa ruang kantin Departemen Arsitektur harus direlokasi desain kantin. Dengan memanfaatkan lahan kosong yang berada di Sitting Group Departemen Arsitektur. Ruang kantin yang sesuai dengan ukuran ergonomi membuat kantin menjadi lebih nyaman dan mudah diakses untuk penjual maupun pengunjung. Peletakan dapur dan etalase menjadi satu dan diletakkan di tengah agar pengunjung dapat mengaksesnya ke segala penjuru ruang kantin. Memperbanyak sirkulasi untuk pengunjung dan penjual sesuai dengan ukuran ergonomi yang berlaku. Menambahkan beberapa furniture dan menata ulang furniture agar memiliki jarak antar furniture dan memberikan sirkulasi agar pengunjung maupun penjual dapat melakukan akses. Memberikan space antara furniture dan etalase agar tidak terjadinya kesesakan dan kepadatan yang akan terjadi apabila waktu makan siang tiba. Memberikan jarak 120 cm antara furniture satu dengan yang lain agar memberikan kenyamanan fisik bagi pengunjung. Hal ini agar pengunjung tidak bertabrakan satu sama lain pada saat mengangkat kursi atau ingin duduk. Furniture yang digunakan sesuai dengan guideline. Meja dan kursi yang digunakan berbagai macam. Ada yang untuk kelompok maupun individu. Tempat sampah menggunakan ukuran yang besar dan diletakkan di tengah. Tempat sampah kecil diletakkan dekat dengan dapur dan etalase makanan. Wastafel, pendingin minuman, dan etalase makanan dan kasir menjadi satu untuk mempermudah pengunjung dalam memesan sekaligus membayar makanan.

DAFTAR PUSTAKA

  • A.W Marsum. 2005. Restoran dan Segala Permasalahannya, Edisi IV. Yogyakarta: Andi.
  • Depkes RI. 2003. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 942. Tentang Pedoman Persyaratan Hygiene Sanitasi Makanan Jajanan. Jakarta: Depkes RI.
  • Depkes RI. 2009. Modul Kursus Hygiene Sanitasi Makanan dan Minuman. Jakarta: Depkes RI Sub Direktorat Sanitasi Makanan dan Bahan Pangan.
  • Effendi, Dewinita., Waani, Judy O., Sembel, Amanda. Pola Perilaku Masyarakat Terhadap Pemanfaatan Ruang Terbuka Publik Di Pusat Kota Ternate.
  • Hantono, Dedi. 2019. Kajian Perilaku Pada Ruang Terbuka Publik. NALARs Jurnal Arsitektur Volume 18 Nomor 1 Januari: 45-46. p-ISSN 1412-3266/e-ISSN 2549-6832. doi
  • Indrayana, Ida Bagus. 2006. Desain Interior Restoran Arma di Ubud Bali. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
  • Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi No.73/PVVI05/MPPT-85 tentang Peraturan usaha Rumah Makan.
  • Mahendra, Nur Hadiansyah. 2017. Kajian Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aksesibilitas dalam Ruang Pelayanan Publik Studi Kasus : BPJS Kesehatan Cabang Utama Bandung. Jurnal Desain Interior Volume 12 No 1 Juni. pISSN 2527-2853. eISSN 2549-2985.
  • Muta'ali, Lutfi. 2015. Teknik Analisis Regional Untuk Perencanaan Wilayah, Tata Ruang, Dan Lingkungan. Yogyakarta: Badan Penerbit Fakultas Geografi (BPFG) Universitas Gadjah Mada.
  • Sugiarto, Endang, dan Sri Sulartiningrum. Pengantar Akomodasi dan Restoran. Jakarta : Balai Pustaka, 1997.
  • web (diakses pada tanggal 12 Maret 2020 pukul 21.47)
hokiperdana slot

▲ Kembali ke atas

Platform Lainnya

the big bet

cne casino

BATARABETSLOT

did you lose a bet meaning

Berita Piala Dunia

suncoast casino specials

psg vs fc nantes standings

fedex casino

rtp slot 7000

Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan kirim email ke [email protected]

▲ Kembali ke atas