Khutbah Jumat: Judi Online, Petaka Berujung Sengsara
Khutbah Jumat: Judi Online, Petaka Berujung Sengsara
Khutbah I
Segala puji bagi Allah, Raja dan Pembalas, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad, pemimpin anak keturunan Adam, serta kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya sepanjang zaman. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, yang Mahasuci dari sifat jasmani, arah, waktu, dan tempat. Aku bersaksi bahwa junjungan kita Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang akhlaknya adalah Al-Qur’an.
Wahai para hamba Allah yang dikasihi, aku wasiatkan kepada kalian dan diriku untuk bertakwa kepada Allah, Yang Maha Pemberi, yang berfirman dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, judi, berhala, dan mengundi nasib adalah kekejian dari perbuatan setan. Maka jauhilah agar kalian beruntung.” (QS Al-Maidah: 90)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, khatib mengawali khutbah ini dengan wasiat agar kita semua senantiasa meningkatkan kualitas iman dan takwa kepada Allah, satu-satunya Tuhan yang wajib disembah, Pencipta segala sesuatu, yang menakdirkan segala sesuatu, Mahakuasa, tidak membutuhkan sesuatu, dan berbeda dengan segala sesuatu. Ia tidak membutuhkan tempat atau arah, dan Mahasuci dari bentuk dan ukuran.
Jamaah shalat Jumat yang berbahagia, nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita sangatlah banyak dan tak terkira. Kita diwajibkan untuk mensyukuri nikmat tersebut dengan tidak menggunakannya untuk berbuat maksiat. Sebaliknya, gunakan nikmat itu untuk melaksanakan perintah-Nya. Salah satu larangan yang wajib kita jauhi sebagai wujud syukur adalah judi.
Allah menegaskan dalam surat Al-Maidah ayat 90-91 bahwa judi adalah perbuatan keji dan perbuatan setan. Menjauhinya adalah keberuntungan. Allah juga menegaskan bahwa dengan judi, setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kita, serta menghalangi kita dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat.
Jika menjauhi judi adalah keberuntungan, maka berjudi adalah kerugian, dan tidak timbul darinya kecuali keburukan, kemaksiatan, dan kesengsaraan. Apabila penjudi menang dan memperoleh harta dari judi, itu termasuk memakan harta orang lain secara batil yang diharamkan. Dan jika kalah dan hartanya hilang, mudaratnya sangat jelas; bisa menyebabkan lalai menafkahi anak istri dan melalaikan kewajiban lainnya. Membelanjakan dan memakan harta judi berarti menjerumuskan diri ke api neraka. Rasulullah bersabda: “Daging yang tumbuh dari makanan haram, maka neraka lebih layak baginya.” (HR Al-Baihaqi)
Jika nafsu membisikkan bahwa dengan judi akan diperoleh harta banyak tanpa bekerja, yakinlah bahwa rezeki kita sudah ditakar. Kita tidak akan mendapat lebih dari yang ditentukan. Karena itu, jemput rezeki dari sumber halal dengan cara yang sesuai syariat.
Seringkali setan dan nafsu membisikkan kepada orang yang lemah iman untuk mencoba judi sekali atau dua kali, dan jika kalah akan berhenti. Inilah tipu daya setan yang wajib diwaspadai, karena penjudi biasanya tidak berhenti pada kekalahan pertama. Setan terus merayunya dengan angan-anggan akan menang di kali berikutnya. Jika terus kalah dan habis banyak harta, kebangkrutan akan mendorongnya mencari uang dengan cara apa pun, termasuk mencuri, merampok, bahkan membunuh keluarga terdekat. Kehidupannya semakin suram, rumah tangga berantakan, anak-anak tidak terurus, harta habis, utang menumpuk. Ratusan juta utang dari pinjol menjerat. Jika sudah sampai titik ini, bunuh diri—dosa besar setelah kufur dan syirik—sering menjadi akhir. Na’udzu billahi min dzalik.
Seiring perkembangan teknologi digital, perjudian merambah dunia maya. Hanya dengan menggerakkan jari di layar hp, siapa pun bisa berjudi, termasuk anak kecil. Tak perlu ke kasino atau tempat tersembunyi. Judi online bisa dilakukan di mana pun, kapan pun, dan dalam keadaan apa pun. Meski jutaan situs judi online telah diblokir, jumlah penjudi online di Indonesia semakin meningkat. Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika, jumlah penjudi online telah menembus lebih dari 2,7 juta orang, didominasi kaum muda usia 17-20 tahun. Keadaan ini sangat memprihatinkan. Oleh karena itu, khatib mengajak kita semua memerangi segala bentuk perjudian, terutama judi online. Mulai dari diri sendiri, jangan pernah mencoba berjudi. Kemudian keluarga dan orang di sekitar kita, jelaskan bahaya dan petaka yang mengintai jika terjerat judi.
Demikian khutbah singkat ini. Semoga kita mampu menjaga diri, keluarga, dan orang yang kita cintai dari maksiat judi dan perkara lain yang dilarang Allah. Aku ucapkan perkataanku ini dan mohon ampun kepada Allah untuk diriku dan kalian, mintalah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Khutbah II
Segala puji bagi Allah, dan cukuplah itu. Aku bershalawat dan salam kepada junjungan kita Muhammad yang terpilih, serta kepada keluarga dan sahabatnya yang setia. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Wahai kaum muslimin, aku wasiatkan kepada kalian dan diriku untuk bertakwa kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Ketahuilah bahwa Allah memerintahkan kalian dengan suatu perintah yang agung, yaitu bershalawat dan salam kepada Nabi-Nya yang mulia. Dia berfirman: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam yang penuh penghormatan.” (QS Al-Ahzab: 56)
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami Muhammad dan kepada keluarganya, sebagaimana Engkau limpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarganya. Berkatilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim dan keluarganya di seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, yang masih hidup maupun yang telah wafat. Ya Allah, jauhkanlah dari kami bala, bencana, wabah, kekejian, kemungkaran, kezaliman, perselisihan, kesulitan, dan cobaan baik yang tampak maupun tersembunyi, khususnya di negeri kami ini dan umumnya di negeri-negeri kaum muslimin. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan, kebaikan, dan memberi kepada kerabat, serta melarang kekejian, kemungkaran, dan kezaliman. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu ingat. Maka ingatlah Allah yang Maha Agung, niscaya Dia akan mengingatmu. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar.
Platform Lainnya
Berita Piala Dunia
Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan kirim email ke [email protected]