Hj. Murtini Penyandang Tuna Netra, Punya Semangat Baja
Hj. Murtini Penyandang Tuna Netra, Punya Semangat Baja
12 Mei 2011
Seorang Dosen UNRI, DR. Hj. Murtini, SH., dengan keterbatasan penglihatan melakukan perjalan keliling Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dengan biaya sendiri, ia menyusuri dari pulau ke pulau, dari provinsi ke provinsi, dan dari kabupaten ke kabupaten untuk mengenal lebih dekat karakter masyarakat tiap daerah di Indonesia serta memecahkan rekor MURI. Di Bagian Humas Kabupaten Bantul, Yogyakarta, ia diterima oleh pihak Humas. Hj. Murtini bercerita bahwa perjalanannya dimulai bulan September 2007 dari Sabang dan pada bulan September 2011 ia berharap bisa bertemu Presiden RI. Dengan bekal sendiri dan bantuan dari kampus serta gubernur, terkumpul Rp100 juta. Saat tiba di Bantul, Kamis (12/5), sudah 788 kota/kabupaten yang dilalui. Tujuan utamanya adalah memberi gambaran kepada dinas instansi di seluruh Indonesia bahwa tidak semua penyandang cacat yang ke kantor minta sumbangan; buktinya ia tidak pernah meminta bantuan di tiap kota yang dilaluinya.
Pada kesempatan tersebut, Hj. Murtini juga bercerita tentang perjalanan hidupnya hingga mengalami kebutaan. Ia mengaku sebagai putri pertama Suparjo Rustam, mantan Mendagri di era Presiden Suharto. Sekolah SD sampai SMA diselesaikannya di Provinsi Jambi. Lalu melanjutkan pendidikan sarjana muda di IKIP Bandung pada tahun 1977 dan menyelesaikan S1 di IKIP Bandung tahun 1979. S2 ia jalani di Universitas Andalas tahun 1987 dan S3 diselesaikan di Negeri Belanda tahun 1997. Pada tahun 2004, sehabis mengikuti seminar di Puncak Bogor, kendaraan yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Dari 12 penumpang, 10 di antaranya meninggal dunia dan dua orang mengalami cacat seumur hidup. Selama pengobatan, sudah dilakukan 7 kali operasi kepala di RS Elisabeth Singapura.
Dari perkawinannya dengan Letjen TNI Hadi Dedi Aprianto, lahir lima anak yang sebagian besar sudah bekerja dan ada yang masih kuliah, di antaranya TNI AD di Riau, Perwira Polisi, TNI AL, Camat Cengkareng, dan yang bungsu masih kuliah Kedokteran di UI. Di samping kelima anaknya, ia juga mengangkat seorang anak perempuan yang kini masih duduk di SMP.
Pesannya kepada penyandang cacat, berusahalah mandiri, jangan selalu menggantungkan diri pada orang lain. Gunakan kemampuan yang ada semaksimal mungkin untuk menatap masa depan, niscaya hidup akan lebih bermakna dan bahagia.
Platform Lainnya
Berita Piala Dunia
Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan kirim email ke [email protected]