Belajar Mantiq dari Azis Anwar Fachrudin

SLOTDRAGON77

spinit casino

download apk slot hp777

casino joulukalenteri 2019

Belajar Mantiq dari Azis Anwar Fachrudin

Mantiq, istilah yang saya peroleh dari situs basabasi. Istilah ini mewarnai tulisan kategori esai. Ditulis berseri oleh Azis Anwar Fachrudin. Saya membaca artikel-artikel ini. Dari artikel ini pulalah yang membawa saya ke kanal YouTube "Basa Basi TV".

Basa Basi TV menampilkan Azis Anwar Fachrudin menyampaikan materi tentang Mantiq. Kalau tidak salah ada 14 seri video. Video ini merupakan rekaman live streaming Azis Anwar Fachrudin ketika mengisi diskusi secara terjadwal di Cafe Basa Basi.

Saya tertarik dengan Mantiq. Terutama dalam istilah dimana Mantiq berfungsi untuk menertibkan pikiran. Posisi Mantiq disini seperti Nahwu (Gramatika) yang digunakan untuk menertibkan bahasa. Dari penjelasan singkat ini jelas sudah, bahwa Mantiq—kalau dibahasakan secara umum, adalah logika.

Mantiq ini menjadi salah satu Trivium. Trivium adalah tiga jenis ilmu pengetahuan yang wajib diajarkan di masa Yunani dulu. Dalam Trivium ini ada Logika, Gramatika dan Retorika. Ketiga hal ini wajib dikuasai oleh orang-orang "berkelas."

Yang saya maksud orang berkelas di Zaman Yunani adalah orang-orang yang tidak berkecimpung/terlibat dalam hal-hal teknis. Inilah yang membedakan orang berilmu waktu itu dengan budak. Budak pada zaman itu lebih digunakan untuk mengerjakan hal-hal teknis. Jadi, perkara filosofis menjadi hal "mewah" yang menjadi ciri orang berkelas.

Mantiq sebenarnya merupakan "ilmu alat." Ilmu Alat apabila disejajarkan dalam dunia pesantren maka akan sepadan dengan nahwu dan sharf. Mantiq konon katanya tidak populer lagi karena dianggap tidak Islami.

Beberapa ulama salaf memang menolak Mantiq. Namun disisi yang lain, tidak sedikit ulama yang mendukung "Mantiq". Terutama Mantiq sebagai ilmu alat. Salah satu pembelaannya terungkap pada kalimat bahwa mantiq dibutuhkan dalam penyusunan ilmu. Memang, logika dibutuhkan untuk membangun argumentasi yang koheren dan korespondensial.

Sekilas, ketika saya membaca buku Mantiq karya Azis Anwar Fachrudin ini ditemukan sebuah pengetahuan baru—pengetahuan baru bagi saya. Mantiq perlu kita dalami untuk menertibkan pikiran. Mantiq diperlukan untuk membangun argumentasi. Terutama dalam luaran untuk melahirkan pengetahuan baru.

Mantiq akan membawa kita pada sebuah penilaian dimana sesuatu itu bernilai benar/salah. Benar/salah hanya dapat dicapai ketika pada hal-hal tertentu. Benar/salah tidak akan dapat dicapai pada hal-hal yang sifatnya estetika atau etika. Misalnya tentang keindahan, kebaikan, atau perasaan.

Namun, hal-hal tersebut di atas dapat dibawa ke bahasan Mantiq/logika ketika dikaitkan/dinyatakan dalam sebuah kalimat. Contohnya ketika membahas "Faktor yang Mempengaruhi Keindahan Seni Tari pada Unsur Gerak", atau "Dominasi Perasaan yang Timbul Saat Mendengar Berita Bahagia".

Intinya, Mantiq dipelajari untuk menertibkan pikiran. Penertiban pikiran sangat diperlukan di era "banjir" informasi seperti saat ini. Ketersediaan informasi yang tidak terbatas membutuhkan "metode" untuk merangkai pengetahuan-pengetahuan yang ada. Utamanya untuk melahirkan pengetahuan baru.

MENJADI

â–˛ Kembali ke atas

Platform Lainnya

gasing google

aek athens vs aris

kamus toto slot

WOW77

Berita Piala Dunia

kompas 123 slot login

MERDEKAPOKER

judi slot terpecaya

j1 league standings

Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan kirim email ke [email protected]

â–˛ Kembali ke atas